Rabu, 03 April 2013

Si Pikiran dan Hati ikut BerAksi




Bismillahirrohmanirrohim….
            Ok sebelumnya kita ta’aruf dulu, nama ana Nuraidah, bisa dipanggil Nur atau Aida. Hmm.. tapi lebih suka dipanggil Aida, karena panggilan itu diberikan oleh orang tua-orang tua ana (maksudnya orang tua kedua atau para guru tercinta). Ana suka menulis, apa pun yang bisa ditulis, fiksi atau nonfiksi dan tentu sebagai bahan bakarnya harus banyak membaca ( pernah denger gak, pak Habibie, si jenius dari Indonesia,juga punya catatan, notabene pasti itu hasil dari menulis). Apa pentingnya? Tentu penting, karena semangat menulis itulah jua kerinduan yang membuncah kepada para “pejuang” itu ana mampu menuliskannya. Sebuah catatan perjalanan, catatan sederhana, dialog hati dan pikiran yang membersamai sedikit jejak bersama KAMMI Al Aqhso. Walau hanya lewat bahasa tulisan, semoga ukhuwah kita tetap teguh hingga ke jannahNya.
            Jiwa pemuda. Ya,waktu itu dengan semangat menggelora ingin ikut menggelorakan peran yang baru tersemat, identitas sebagai mahasiswa. Katanya posisi mahasiswa sangat potensial. Potensial karena kedudukannya. Ayo kita ingat pelajaran IPA waktu SD!. “Energi Potensial adalah energi yang tergantung dari kedudukan atau ketinggiannya” Secara matematis Ep =m.g.h. Dan h tersebut menunjukkan posisi atau kedudukan atau ketinggian. Itulah mahasiswa, ia punya posisi yang tepat. Jadi, ia mampu menjadi energi yang potensial. Stop! Ini pelajaran fisika atau apaan sih. Pusiing…. Sabar dulu…. Nanti kita bakal denger islam yang syamil mutakamil, islam yang sempurna dan menyeluruh, jadi  ilmu fisika juga harus ikut masuk, iya kan?(waktu SMA ana sangat menyukai fisika)
 Kita berbicara tentang Indonesia. Negeri dengan sejuta pesona. Tak lupa dengan sejuta masalah. Mengingat peran mahasiswa yang penting sebagai agent of change, dan mahasiswa punya kedudukan yang potensial tadi. Kita memang harus peduli, menyerukan keadilan di muka bumi (wah gayanya… ana sudah sedikit paham tentang ini, bukan dari lapangan, tapi dari membaca, kalau praktiknya… jauh) Maka karena ilmu yang baru sedikit itu, ana memutuskan untuk banyak belajar, berusaha menyiapkan bekal semaksimal mungkin, berpikir, bertanya kesana kemari dimana ana bisa mnendapatkan ilmu pamungkas itu. Haroki dan lapangan. Hingga hati ini terpaut pada KAMMI(Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Tempat yang tepat sekali. Aksi=Lapanngan dan Haroki, Ana seorang mahasiwa muslim dan warga negara Indonesia. Sempurna! Membumikan pesona dan izzah islam di tanah Indonesia sekaligus ikut berpartisipasi dalam menyerukan yang haq dan memberantas yang batil tentu dengan pesona manusianya yang cemerlang. Sesuai kutipan kalimat Anis Matta” Islam datang dengan dua pesona; pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah dimana kedua pesona itu bertemu, islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayaannya” KAMMI, membawa dua pesona itu dalam balutan aksi bukan sekedar teori.
Pemikiran awal belum sepaham itu. Singkat cerita ana mengikuti dauroh yang dikenal dengan Dauroh Marhalah 1(DM 1) KAMMI Al Aqhso Unsri. Oh ya, ana lupa saking semangatnya. Ana tercatat sebagai mahasiswa FK Unsri di jurusan pendidikan dokter umum(PDU) angkatan 2011 . Waktu itu kampus PDU di Palembang, sedang pusat kegiatan ormawa termasuk KAMMI di Indralaya, 32 Km dari Palembang sekitar 45 menit perjalanan(kalau tidak macet). Jadi, ana harus menempuh perjalanan itu. Karena kesorean, awalnya ana ragu untuk melanjutkan safar. Tapi, seorang mbak menelepon, katanya beliau juga di Palembang jadi bisa berangkat bareng. Alhamdulillah! Godaan pertama berhasil dikalahkan. Kalau baca di dongeng-dongeng bener juga, banyak banget godaan kalau mau cari ilmu. Perjalanan dilanjutkan. Ana lengkap dengan segala persiapan, termasuk pakaian ganti, peralatan pribadi, satu yang terlupakan wajibat, karena ana dapet infonya telat. Gak apalah, hapalan bisa ditempat, yang bermasalah baca bukunya, dalam satu malam bisakah mengkhotamkan siroh nabawiyyah? Iqob menanti.
Aksi dimulai. Eitss…. kan belum resmi jadi anggota KAMMI, kok sudah beraksi. Ya, pikiran dan hati ana mulai beraksi. Dalam pikiran ana, KAMMI itu adalah kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia. Memang benar. Pemahaman ana tentang KAMMI belum kaffah. Aksi dalam pikiran ana masih mengalami generalisasi, misalnya baksos, terus jadi volunteer kalau ada bencana di suatu daerah. Itu juga benar kan? Lebih jelasnya seperti ini, ana kan mahasiswa FK, ana pikir ilmu yang ana dapatkan di FK akan bisa ana AKSIkan di baksos tersebut misalnya. Kalau ada kegiatan KAMMI, ana akan membawa stetoskop, tensimeter, glukometer dan lainnya, mungkin kalau perlu juga bisa buat klinik Juga. Otak ana kemudian memproses informasi dan dari apa yang dirasakan oleh hati. Semua bayangan tentang KAMMI berputar di pikiran. Dan ana ikut KAMMI bukan sekedar ikut-ikutan. Tapi bisa dikatakan trial and error… Harapannya trial and success.
Lanjut ke DM 1, ana sampai di tempat malam hari setelah kehujanan. Romantis sekali.. hujan ikut mengiringi perjalanan ana. Ini sebuah perjuangan. Ana melewatkan beberapa materi. Dan tahukah, ana menyesal. Seandainya ana datang lebih awal. Materinya begitu menarik. Makna Syahadat, sebagai inti ajaran islam. Syumulatul islam, kesempurnaan islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Problematika umat kontemporer karena ketidakpedulian kita. Pemuda dan perubahan social, filosofi KAMMI dan terakhir manajemen aksi. Semua membuka pemahaman ana. Dari kepahaman itu ana berangkat.
Pada saat manajemen aksi, ana bingung apa yang harus dilakukan. Ternyata settingnya sebuah demonstrasi. Hal yang PALING ANA TIDAK SUKAI. Ana teringat waktu SMA dulu. Sebuah artikel dengan judul “Demonstrasi Tak Selalu Demokrasi”. Dengan tegasnya ana mengatakan, ana tak menyukai demonstrasi yang selama ini terjadi. Lagi-lagi si otak dan hati ikut berAksi. Debat panjang antara keduanya. Hati mengatakan ikutilah dulu, tapi otak berpikir seribu kali. Apa yang bisa ana lakukan nantinya. Kami dibuat dalam barisan mahasiswa yang disetting tengah melakukan demonstrasi.
“Ayo berpikir, pakai logika, apa manfaatnya ikut demonstrasi, lagian kamu mau jadi dokter bukan politisi,terus ikut melakukan kudeta, begitu?” kata si otak
“Ikuti dulu, ambil manfaatnya” jawab si hati
Stetoskop dan teman-temannya menambah riuh suasana. Mereka ikut berdemonstrasi .
“Kami tuntut hak kami, anda adalah tuan kami. Berikan hak kami. Berhentilah dan berikan perhatian penuh pada kami”
Semua ribut, ketika kita terkhusus ana lebih mementingkan akal. Maka qolbu, sang raja adalah penentu keputusan terbaik. Saat ini ikuti dulu….
Astagfirullah… kalau ada yang menyadari, warna muka ana berubah ketika manajemen aksi. Tapi teman-teman yang lain begitu semangatnya. Subhanalloh! Setelah melewati perdebatan dan zona yang melelahkan, dauroh akan segera ditutup. Disana diumumkan ada beberapa yang belum dinyatakan lulus. Ana melihat seorang akhwat, ia menangis karena dinyatakan tidak lulus. Ya Allah, seandainya posisi itu ada di tempat ana, mungkin berbanding terbalik, ana akan tersenyum bahagia.
Dan perjalanan pulang menjadi hal yang sedikit menghibur. Sepanjang jalan ana berpikir, inilah ilmu yang ana cari dan barusan ana mencapai gerbangnya. Sekarang pilihannya ana akan masuk, tetap terpaku di depan gerbang atau mundur teratur. Lahan dakwah begitu luas hamparannya. Maka belajar bisa dari siapa saja, selama kita memegang dan menjaga izzatil islam.
 Perjalanan yang sangat menarik. Bertemu teman-teman yang full ghiroh. Semangat membara untuk menyerukan kebenaran. Islam yang syamil mutakamil. Islam yang sempurna. Semua pemahaman itu, sungguh besar andil KAMMI.. Ilmu yang sangat bermanfaat. Karena hidup bukan untuk diri sendiri. Dan bergeraklah(haroki) hingga kaki menginjak surga.Karena diam itu mematikan
Jazakumullah khoiron jaza kepada teman-teman KAMMI. Ana selalu merindukan kalian. Trial and error yang selalu ana harapkan menjadi trial and success. Ana selalu ingat, bahwa belajar dapat dari mana saja, ketika kita mau menjemputnya. Implementasi yang sangat bermanfaat dari apa yang ana dapatkan dari KAMMI, membuka pemahaman dalam pegerakan
Hidup mulia atau mati sebagai syuhada… hanya itu pilihannya
Allahu Akbar!

"Muslim Negarawan"
Karena Islam itu syamil wa mutakamil


           




2 komentar:

  1. wah mantap nih tulisannya

    Allahuakbar!!!

    BalasHapus
  2. Syukron apresiasinya :) afwn tulisan nya masih jauh dari bagus.. krn ttg KAMMI y?

    BalasHapus